1B_Vertigo
Saran:
- Seharusnya apoteker menyarankan tindak lanjut penggunaan paracetamol apakah dihentikan atau dilanjutkan karena sudah diberikan Dimenhydrinate
- Lebih teliti lagi dalam memberikan obat
- Lebih diperhatikan lagi obat-obat yang akan diberikan kepada pasien agar tepat indikasi dan dapat meningkatkan kualitas hidup pasien
Rangkuman:
Pasien bernama Bu Ina mengeluhkan pusing dengan sensasi berputar dalam ruangan. Pasien juga merasa mual saat pusing tersebut melanda. Suami pasien membeli obat di Apotek untuk vertigo yang dialami istrinya. Sebelumnya pasien mengkonsumsi paracetamol untuk mengatasi gejalanya namun masih merasakan nyeri. Obat saat ini yang digunakan pasien adalah diazepam untuk mengatasi kecemasan pasien karena pasien mengalami kemalangan. Apoteker menyarankan untuk mengkonsumsi dimenhydrinate 50 mg untuk mengatasi pusing, mual dan muntah yang dialami pasien. Obat dimenhydrinate diminum 4x sehari pada saat bangun tidur, siang hari jam 11.00 WIB, pada sore hari jam 17.00 WIB dan pada saat sebelum tidur. Obat ini dikonsumsi tidak perlu mengikut jam makan. Adapun efek samping obat ini dapat menyebabkan mengantuk sehingga disarankan jangan langsung berkendara setelah meminum obat tersebut. Jika masih merasakan pusing setelah minum obat tersebut, pasien disarankan untuk segera berkonsultasi ke dokter. Apoteker menyarankan agar obat diazepam tetap diminum dan menyarankan aktivitas fisik untuk melatih Keseimbangan dengan cara seperti:
Duduk tegak dengan posisi kaki tergantung dan mata terbuka
Tubuh dibaringkan ke arah salah satu sisi
Kepala menghadap ke atas dengan sudut 35˚ pertahankan posisi selama 30 detik
Lakukan hal yang sama pada sisi yang berlawanan. Aktivitas tersebut dilakukan secara rutin
Pasien disarankan untuk menghindari stress, perbanyak istirahat, menghindari kegiatan yang berat, jika sedang berbaring dan ingin berdiri jangan langsung berdiri agar tidak pusing.
Paracetamol tetap digunakan dan ditambah obat dimenhydrinate. Paracetamol digunakan 3x pada pagi, siang dan malam hari. Dimenhydrinate dikonsumsi 4x sehari pada pagi, siang, sore dan malam hari. Diazepam dapat menyebabkan efek samping vertigo yang dapat memperparah vertigo pasien sehingga harus konsultasi ke dokter untuk penggunaan obatnya. Sementara disarankan menggunakan metampiron dan vitamin B untuk merileksasikan sarafnya. Karena sakit kepala harus diberikan anti nyerinya. Pasien disarankan untuk menjaga pola makan agar pasien tidak mengalami lemas. Obat antiansietas pilihan lain contohnya seperti buspirone, SSRI, dan alprazolam. PCT diganti metampiron.
PMR:
3B_Alzheimer
Saran:
Karena sedang berinteraksi dengan masyarakat, pemateri seharusnya menjelaskan dengan nada dan intonasi yang jelas agar masyarakat dapat menjadi antusias mendengarkan
Dalam menjelaskan materi harusnya tidak terlalu cepat dan artikulasinya jelas agar mudah dipahami oleh masyarakat
Lebih diasah lagi cara berkomunikasi dengan masyarakat
Lebih dijelaskan lagi penggunaan obat stadium 1,2 dan 3 menggunakan obat yang mana
Dalam membuat makalah disusun penatalaksanaannya agar mudah dimengerti dan dipahami
6B_Gingivitis
Saran:
Perhatikan tindak lanjut obat paracetamol apakah tetap dilanjutkan atau dihentikan
Disarankan untuk menambahkan terapi non farmakologi seperti makan-makanan yang sehat seperti vitamin C untuk memenuhi nutrisi nya
Pada saat berkonsultasi informasikan kepada pasien kapan harus ke dokter
Pasien mengalami keluhan pembengkakan pada gusi sekitar gigi geraham bawah kiri sejak 2 hari yang lalu. Keluhan tersebut disertai demam dan nyeri pada waktu mengunyah. Pasien diberikan paracetamol 500 mg 2x sehari namun tidak ada perbaikan sehingga pasien ke Apotek untuk membeli obat. Apoteker memberikan ibuprofen dan obat kumur. Ibuprofen berfungsi untuk mengurangi bengkak, rasa sakit dan demam. Diminum 3x sehari setelah makan. Efek samping obat ini yaitu mual, muntah, sakit kepala dan diare. Obat kumur betadine merupakan obat kumur yang digunakan untuk membersihkan mulut dan mencegah infeksinya. Digunakan setelah gosok gigi 3x sehari, penggunaanya jangan ditambah dengan air, langsung digunakan dan jangan ditelan. Jika sudah reda dihentikan ibuprofennya dan jika masih sakit segera ke berkonsultasi ke dokter gigi. Pasien disarankan untuk sering gosok gigi, kurangi minum dan makan-makanan manis, scalling gigi, apabila setelah selesai makan jangan lupa gosok gigi. Apabila masih merasakan keluhan disarankan untuk kontrol ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali.
Gingivitis merupakan kerusakan yang terjadi pada jaringan penyangga gigi yang menyebabkan terbentuknya kantong berisi nanah dan bakteri. Penyebabnya karena adanya plak yang melekat pada permukaan gigi dan mengandung koloni bakteri disebabkan karena kebersihan gigi dan mulut yang tidak baik. Perbedaan gingivitis dan periodontitis adalah gingivitis merupakan tahap awal sedangkan periodontitis infeksi gusi yang dapat menyebabkan kerusakan pada gusi, tulang rahang, dan jaringan lunak di sekitar gusi. Kondisi ini merupakan salah satu komplikasi dari radang gusi (gingivitis) yang tidak ditangani dengan tepat. Obat kumur first line yang digunakan adalah klorheksidine yaitu minosep. Faktor resiko gingivitis adalah makan makanan manis, jarang gosok gigi, tidak membersihkan karang gigi, perubahan hormon, kurang nutrisi seperti vitamin C, dan adanya faktor obat-obatan. Terapi non farmakologi nya seperti kumur dengan air garam dan kompres dengan air dingin.
4B_Migrain
Saran:
Lebih dijelaskan lagi terkait dengan gejala spesifik migrain
Sesuaikan materi di makalah dengan leaflet yang diberikan
Leaflet yang dibuat harusnya lebih dilengkapi lagi
Tampilkan di PPT terkait leaflet yang dibuat agar terlihat oleh peserta
Lebih dipersiapkan lagi terkait penampilan roleplay
Waktu makan pasien dibagi sehingga diketahui kapan diberikan obat
DRP pada PMR kurang lengkap mungkin bisa dilengkapi lagi
Leaflet tidak diberi identitas mungkin bisa ditambahkan lagi agar bisa dihubungi
Stroke adalah manifestasi klinis akut akibat disfungsi neurologis pada otak, medulla spinalis, dan retina baik sebagian atau menyeluruh yang menetap selama 24 jam atau menimbulkan kematian akibat gangguan pembuluh darah. Pasien disarankan dokter untuk tidak boleh makan daging, jeroan, seafood, bersantan, dan berlemak dan harus banyak makan buah dan sayur, sama minum air putih karena dapat menyebabkan kolesterolnya tinggi. Pasien diresepkan obat opivask 5 mg, proxime 100 mg, simbado 10 mg, dan neurodex masing-masing 10 tablet. Opivask ini sebagai antihipertensi, diminumnya 1 kali sehari pada pagi hari 30 menit setelah makan. Lalu Proxime untuk mencegah kekambuhan stroke diminum 1 kali sehari 30 menit setelah makan. Simbado 10 mg untuk anti kolesterol diminum 1 kali sehari pada malam hari sebelum tidur, bisa diminum jam 8 malam dan diminum 30 menit setelah makan. Neurodex merupakan multivitamin, diminum 1 kali sehari 30 menit sebelum makan. Efek samping dari obat tersebut adalah rasa tidak nyaman di perut, konstipasi, diare, nyeri otot. Apoteker menyarankan banyak istirahat, namun tetap diupayakan untuk aktif berolahraga walaupun tidak terlalu sering, tidur dengan teratur, jangan terlalu banyak pikiran, harus bersikap yang optimis punya badan sehat, perbanyak berdoa, dan menghindari pemicu stres lainnya, minum air putih yang cukup, dan menjaga pola makan seperti harus makan sayuran, kacang-kacangan, dan buah, menghindari makanan berminyak dan soft drink, daging merah, seafood. Lalu juga bisa, kontrol rutin terkait dengan tekanan darah dan kolesterolnya. Pemeriksaan kolesterol pada penderita stroke atau riwayat kardiovaskular lainnya rutin dilakukan dalam jangka waktu singkat yaitu minimal 1 bulan sekali pada pasien rawat jalan. Pemeriksaan CK digunakan untuk pemantauan pasca stroke, bukan terkait makanan berlemak yang dikonsumsi pasien.
- simbado dan opivask interaction
Terdapat interaksi antara pemberian obat dengan kandungan amlodipin dan simvastatin dimana pemberian amlodipin dapat meningkatkan kadar simvastatin sehingga dapat meningkatkan risiko efek samping simvastatin berupa miopati. Akan tetapi, penggunaan kombinasi simvastatin dan amlodipin tidak perlu dihindari, asalkan memang terdapat indikasi yang mengharuskan pemberian gabungan tersebut dan telah berada di bawah pengawasan dokter. Namun, disarankan agar pengobatan dengan statin pada pasien hipertensi dimulai dengan dosis statin serendah mungkin. Produsen simvastatin juga menyarankan untuk membatasi dosis sampai 20 mg setiap hari (Kumar et al, 2014). Dibutuhkan jeda waktu dalam mengonsumsi obat tersebut untuk membantu meminimalkan risiko yang tidak diinginkan sehingga pasien dapat diedukasi terkait waktu mengonsumsi amlodipin dan simvastatin.
PMR:
6B_Kolesterol
Saran:
Lebih dilengkapi lagi assessmentnya terkait menanyakan riwayat penyakit dan riwayat keluarga
Suaranya lebih diperjelas lagi agar terdengar oleh audience
Pasien mengalami pusing setelah mengkonsumsi makan masakan padang. Pasien memiliki kadar kolesterol totalnya melebihi batas normal, yaitu 220 mg/dL. Pasien pergi ke Apotek untuk membeli obat Lipitor. Apoteker memberikan paracetamol 500 mg untuk mengatasi nyeri sakit kepala dan diminum 3x sehari diberikan 10 tablet. Diminum sedang saat sakit saja dan jika nyerinya sudah hilang maka dihentikan pengobatannya. Apabila semakin parah segera memeriksa ke dokter untuk penanganan lebih lanjut. Obat Lipitor tidak bisa diberikan karena obat tersebut harus memerlukan resep dokter. Hiperkolesterolemia terjadi karena kadar kolesterol tinggi pada darah. Untuk gejalanya tidak ada gejala khusus dan komplikasinya seperti gagal jantung dan lain lain. Hiperkolesterolemia dapat disebabkan karena makan-makanan yg mengandung lemak dan kurang olahraga. Terapi non farmakologi dapat menghindari makanan berlemak, melakukan aktivitas fisik seperti jalan santai dan bersepeda, hindari merokok dan menghindari alkohol, dan minum air putih.
Tanggapan:
Hiperkolesterolemia merupakan silent disease yang tidak memiliki gejala spesifik
Apabila pada kasus diatas, boleh disarankan melakukan pengukuran kadar kolesterol pasien dengan home kit, namun apoteker tidak bisa didiagnosis sehingga disarankan ke dokter apabila kadar kolesterolnya memang tinggi agar dapat diberikan obat
Suplemen untuk menurunkan kadar kolesterol adalah minyak ikan yang mengandung omega-3
Tidak apa menggunakan paracetamol walaupun digunakan sebagai demam dan nyeri, karena parasetamol memiliki salah satu efek yaitu nyeri yang dapat diindikasikan untuk pasien
Lipitor tidak diberikan sehingga harus pergi ke dokter terlebih dahulu
Sebaiknya tidak perlu konsul ke dokter agar tidak terlalu jauh dari kasus yang diberikan
Sebaiknya dijelaskan cara minum obat dalam bentuk tabel agar mudah dipahami oleh pasien
Dijelaskan target terapi dari pasien misalnya seperti sampai kapan obat digunakan agar dapat mengoptimalkan terapi pasien
Pada PMR seharusnya dijelaskan terkait interaksi-interaksi obat yang mungkin terjadi
Rheumatoid Arthritis (RA) adalah penyakit autoimun berupa inflamasi arthritis pada pasien dewasa. RA dapat menyebabkan nyeri, bengkak, kaku pada persendian dan juga dapat menyebabkan kerusakan sendi yang parah, kehilangan fungsi, hingga kecacatan. RA dapat terjadi pada ekstremitas atas, ekstremitas bawah, spina, dan sendi aksial. Efek yang disebabkan oleh RA juga dapat memengaruhi dan merugikan sistem organ di seluruh tubuh. RA memiliki efek substansial dan dapat menghancurkan kemampuan seseorang dalam menyelesaikan aktivitas sehari-hari.
Pasien mengeluh nyeri dan kaku pada sendi kaki dan tangan, terutama di pagi hari sejak beberapa bulan lalu. Gejala ini disertai dengan bengkak pada sendi. Pasien diberi resep oleh dokter yaitu obat Methotrexate, Pehacort dan Celecoxib. Pasien pergi ke apotek untuk menebus obat yang diberikan oleh dokter. Methotrexate EBEWE 2,5 mg diminum 1x sehari sebelum makan yang digunakan untuk mencegah perburukan sendi lebih lanjut akibat rheumatoid arthritis. Efek sampingnya seperti diare, penurunan kadar asam folat, dan sakit kepala. Pehacort mengandung prednisone yang digunakan untuk mengurangi peradangan dan bengkaknya. Diminum 1x sehari setelah makan. Efek samping gangguan penglihatan, pusing, peningkatan nafsu makan, gastritis dan lain-lain. Celecoxib 100 mg dikonsumsi 2x sehari jika nyeri saja yang untuk mengatasi nyeri pada sendi. Efek samping yaitu diare, pusing, disfagia, dan dispnea. Jika gejala yang dirasakan tidak kunjung membaik, atau jika mengalami efek samping yang parah, dapat segera pergi ke dokter. Karena memiliki riwayat gastritis maka digunakan obat omeprazole untuk mencegah efek samping gastritis. Metotreksat bisa menurunkan kadar asam folat yang mana kekurangan asam folat ini bisa menyebabkan anemia. Sehingga direkomendasikan bapak juga mengkonsumsi suplemen asam folat. Omeprazole 20 mg 15 kapsul, diminum satu kali sehari satu jam sebelum makan. Lalu, suplemen asam folat nya dua tablet diminum satu kali seminggu saja. Terapi non farmakologi yang disarankan adalah kompres hangat pada sendi yang sakit, istirahat yang cukup, makan makanan yang bergizi, latihan fisik seperti berjalan setiap 30 menit/hari dan dapat pula melakukan latihan aerobik seperti yoga, diet dan menurunkan berat badan karena berat badan berlebih dapat memperparah kondisi sendi. OMZ tidak diberikan karena tidak memiliki riwayat gastritis.
Tanggapan:
RA dan rematik berbeda karena RA disebabkan oleh autoimun sedangkan rematik karena peradangan sendi
RA dan gout berbeda berdasarkan penyebabnya, RA karena autoimun sedangkan gout adanya peningkatan asam urat
Glukokortikoid digunakan sebagai anti inflamasi dan celecoxib digunakan untuk analgesik
Celecoxib digunakan untuk pasien dengan gastritis karena obat ini bekerja secara selektif pada COX-2 sehingga tidak terjadi efek samping gastritis
Terapi obat dilihat dalam 6 bulan untuk target terapi jika tidak ada perbaikan maka dilanjutkan ke terapi selanjutnya
Omeprazole seharusnya tidak diberikan kepada pasien karena pasien tidak memiliki gastritis sehingga ditanyakan kapan pasien terakhir kali mengalami gastritis
Untuk pemberian asam folat tidak apa jika tidak diberikan tergantung dari pasien apakah memerlukan atau tidak
Suaranya lebih dikeraskan lagi agar terdengar oleh penonton
Pasien hamil merasakan lesu, pusing, dan mata berkunang-kunang, kelopak mata dan bibir tampak pucat. Pasien pergi ke apotek untuk membeli obat Trimakal bersama suaminya. Apoteker memberikan obat vitamin ke pasien yaitu obat Dimenhidrinat untuk mengatasi mual dan muntahnya diminum 3 x sehari 30 menit sebelum makan. Jika mual dan muntahnya sudah berhenti, maka obatnya dihentikan. Selanjutnya obat multivitamin untuk mengatasi lemas pasien, yaitu tablet tambah darah diminum 1 x sehari 1 tablet. Untuk efek sampingnya mual dan muntah tapi untuk mengurangi efek samping ini bisa diminum sesudah makan di malam hari sebelum tidur. Apoteker menginformasikan kepada pasien apabila tinjanya berwarna hitam, maka tidak khawatir karena tidak membahayakan. Obat caviplex untuk menambah nutrisi, diminum 1 x sehari 1 tablet pada pagi hari. Untuk obat yang dari puskesmas tadi tidak perlu diminum karena dapat menyebabkan mual. Apoteker menyarankan untuk memakan banyak makanan yang mengandung nutrisi seperti makanan yang mengandung vitamin C (buah segar, sayuran dan jus buah) karena bagus untuk membantu penyerapan tablet tambah darahnya, apabila mual muntah sudah mendingan bisa makan dalam porsi kecil tapi lebih sering, pasien disarankan untuk menghindari pencetus mual dan muntah seperti makanan berminyak (saus salad, kue tart, dan kuah daging), pemakaian bumbu dengan bau tajam secara berlebihan (bawang merah, merica, cabe, serta bumbu lain), makanan yang mengandung gas (ketimun, brokoli, bawang, lobak, kacang kering), minum atau makanan sup dengan konsistensi kental dan lengket atau bisa bau-bauan yang dapat merangsang mual muntah. Vitamin diminum dengan rutin karena nutrisi penting untuk pertumbuhan bayi, pasien juga disarankan untuk olahraga seperti jalan pagi.
Caviplex lebih dipilih dari TTD karena kandungan dari caviplex lebih banyak yang dapat memenuhi nutrisi dari ibu hamil
Gejala anemia mata berkunang-kunang, lemas, dan pusing
Pada ibu hamil selain TTD ditambahkan dengan terapi non farmakologi
Terapi anemia untuk ibu hamil adalah zat besi 800 mg dengan asam folat 400 mcg
Pada ibu hamil diperlukan nutrisi kalsium
Kebutuhan ibu hamil dengan anemia biasa berbeda karena adanya pengaruh hormin ibu hamil
Untuk obat trimakal tetap dilanjutkan untuk memenuhi kebutuhan kalsium karena janin menggerogoti kalsium ibunya untuk efek sampingnya tidak selalu terjadi
Jelaskan penyakitnya dengan menyesuaikan tempat diadakan penyuluhan
Lebih diperhatikan lagi terkait pemilihan kata yang digunakan pada slide maupun makalah agar tidak salah sehingga tidak terjadi miss komunikasi
Kekurangan iodium memiliki spektrum kelainan yang luas dengan berbagai macam manifestasi klinis dari ringan sampai berat yang berisiko pada semua kelompok usia dari janin di dalam kandungan sampai usia lanjut. Kekurangan iodium dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan seseorang. WHO merekomendasikan asupan iodium sebesar 90 mikrogram (mcg) per hari untuk anak usia 0-5 tahun, 120 mcg per hari untuk anak 6-12 tahun, 150 mcg per hari untuk anak 12 tahun ke atas dan dewasa, serta 250 mcg per hari untuk ibu hamil dan menyusui. GAKI adalah sekumpulan gejala karena tubuh kekurangan iodium dalam jangka waktu lama, karenanya pembentukan tiroksin terhambat sehingga tidak mencukupi kebutuhan. Kebutuhan yang tidak cukup, menyebabkan kelenjar tiroid berusaha mengadakan kompensasi dengan menambahkan jaringan kelenjar. Sel kelenjar tiroid mengalami pembesaran untuk meningkatkan pengambilan iodium sehingga terjadi hipertropi kelenjar gondok. Terapi farmakologi pada GAKI dilakukan dengan pemberian suplemen kapsul iodium sebagai terapi jangka pendek. Kapsul minyak beriodium berisi iodium yang dilarutkan dalam minyak dengan dosis 200 mg iodium. Dosis pemberian kapsul minyak beriodium untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan anak sekolah diberikan 1 kapsul per tahun, sedangkan wanita usia subur diberikan 2 kapsul per tahun. Terapi non farmakologinya adalah konsumsi garam beriodium, konsumsi susu dan telur, konsumsi rumput laut, dan KIE dan pemantauan GAKI. Penyebab langsung nya adalah karena adanya kekurangan zat iodium, adanya bahan goitrogenik, defisiensi protein, adanya unsur sekeluit seperti Pb, Rb, Gh, dan Cu, adanya kelainan iodium dan genetik. Penyebab tidak langsungnya adalah geografis (tanah yang kekurangan iodium) dan non geografis. Untuk gejalanya terbagi menjadi 2:
Gejala yang terlihat secara klinis → adanya pembesaran kelenjar tiroid (goiter), atau yang sering disebut gondok. Kalau belum terlihat dapat diperiksa oleh ahli gizi dengan perabaan pada kelenjar tiroid di leher bagian depan.
Gejala lain terkait hipotiroid, yakni malas dan apatis, merasa kedinginan, rambut rontok berlebihan dan gejala lain karena menurunnya metabolisme energi dalam tubuh.
Pemeriksaan yang digunakan adalah pemeriksaan kadar yodium dalam urin, pemeriksaan hormon tiroid, dan pemeriksaan tiroglobulin. Semakin besar tingkat kekurangan iodium maka semakin besar ukuran kelenjarnya dan semakin berat komplikasi yang akan timbul. Konsekuensi dari kekurangan iodium atau GAKI dapat berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan manusia secara luas. Terapi farmakologinya adalah injeksi lipiodol (mengandung 480 mg iodine per ml) dan kapsul yodium dosis tinggi, yaitu yodiol (kapsul lunak mengandung yodiol oil 755 mg). Terapi non farmakologinya adalah yaitu kompress hangat dan dingin untuk mengurangi nyeri, mencukupi kebutuhan garam beryodium.
Kekurangan iodium menyebabkan gangguan mental pada anak dan gangguan emosi pada dewasa
Kadar iodium di penggunungan lebih rendah daripada yang tidak di pegunungan
Hipotiroid juvenil adalah terjadi pada usia muda
Hipertiroid natal terjadi pada bayi
Orang yang terkena hipertiroid terjadi pada laki laki dusia 45 tahun keatas, pada wanita ditandai fertilitas
Seharusnya pada PPT ditampilkan berat badan dan tinggi badan yang ideal pada anak sebagai perbandingan
Pada penjelasan PPT terlalu banyak tulisan sehingga dapat membingungkan peserta penyuluhan dalam membacanya
Stunting merupakan gangguan pertumbuhan atau kondisi tinggi badan seseorang lebih pendek dibandingkan tinggi badan orang lain yang seusianya akibat masalah kurang gizi kronis yang disebabkan karena asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Kondisi kekurangan gizi dapat terjadi sejak bayi masih dalam kandungan dan pada masa awal setelah anak lahir, tetapi baru nampak setelah anak berusia 2 tahun. Underweight adalah asupan makanan kurang pada masa balita dan berakibat terhadap kehilangan berat badan normal. Stunting adalah asupan makanan kurang dalam jangka waktu lama sejak usia bayi sehingga mengakibatkan anak menjadi pendek. asupan makanan kurang dalam jangka waktu lama sejak usia bayi sehingga mengakibatkan anak menjadi pendek. Wasting adalah masalah gizi akut yang sensitif terhadap perubahan secara cepat seperti terkena penyakit diare atau kelaparan. Ciri-ciri stunting adalah sebagai berikut:
Pertumbuhan terlambat, kondisi ini menyebabkan tinggi badan anak lebih pendek dibandingkan dengan anak seusianya
Pertumbuhan gigi terlambat
Berat badan balita tidak naik bahkan cenderung menurun
Anak mudah terserang penyakit infeksi, misalnya diare, kecacingan, ISPA, cacar air, campak, TBC
Terlihat lemas terus menerus dan kurang aktif
Wajah tampak lebih muda dari usianya
Hasil buruk pada tes perhatian dan memori belajar
Usia 8-10 tahun anak menjadi lebih pendiam, tidak banyak melakukan kontak mata dengan orang disekitarnya
Tanda pubertas terlambat
Dampak stunting dapat menyebabkan terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan perubahan fisik, dan gangguan metabolisme dan hormon dalam tubuh. Selain itu juga dapat menyebabkan menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar, menurunnya imunitas tubuh sehingga rentan sakit, dan risiko tinggi untuk munculnya penyakit-penyakit menular dan tidak menular. Penyebab stunting adalah kondisi tidak cukup akses terhadap pangan dan pola konsumsi makanan, pola asuh anak yang tidak memadai, serta akses pelayanan kesehatan dan sanitasi air bersih yang tidak memadai. Selain itu juga dapat disebabkan karena asupan makanan yang tidak adekuat serta status infeksi dan kesehatan pada anak. Pemeriksaan yang dilakukan adalah pemeriksaan fisik seperti berat badan, tinggi badan dan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah perifer lengkap, urinalisis dan feses rutin dan lain sebagainya. Nutrisi untuk ibu hamil diperlukan untuk mencegah stunting seperti memenuhi kebutuhan protein, energi, zat besi, zink, kalsium, asam folat, dan yodium.
Terapi obat yang digunakan adalah terapi nutrisi yaitu dilakukan dengan pemberian makan yang benar (bergizi) dan energi yang cukup (dengan protein energy ratio, PER 10-15%). Untuk anak yang gizi buruk, anak tidak memungkinkan mengonsumsi ASI atau MPASI dan memiliki faktor risiko seperti Berat Badan Lahir Sangat Rendah (BBLSR), maka diberikan PKMK yaitu oral nutrition supplement (ONS), Formula prematur dengan ketentuan kandungan energi minimal 24 kkal/30 ml, dan formula dengan komposisi makronutrien dan mikronutrien spesifik untuk kelainan metabolisme bawaan tertentu. Pencegahannya adalah dengan cara memberikan TTD pada ibu hamil, pemberian makanan tambahan pada ibu hamil, pemenuhan gizi, persalinan dengan dokter atau bidan yang ahli, pemberian Inisiasi Menyusu Dini (IMD), pemberian ASI eksklusif pada bayi hingga usia 6 bulan, pemberian MP-ASI untuk bayi diatas 6 bulan hingga 2 tahun, pemberian imunisasi dasar lengkap dan vitamin A, pemantauan pertumbuhan balita di posyandu terdekat, dan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.
Stunting bersifat irreversible sehingga pada masa anak-anak dijaga nutrisinya
Stunting tidak dapat diobati, seharusnya pada saat ibu hamil dicukupkan kebutuhan nutrisi ibu hamil agar mencegah stunting. Apabila sudah terjadi maka dipantau terkait pola makan anak dan nutrisinya
Trimester 1 tidak perlu untuk mengkonsumsi zat besi karena dapat memicu mual dan muntah
Infeksi yang terjadi pada anak stunting adalah dapat menyebabkan infeksi saluran pencernaan
Adanya stunting dilakukan pemeriksaan hormon tiroid dimana hormon tiroid berhubungan dengan pertumbuhan tulang sehingga apabila hormon tiroid nya kurang maka dapat mempengaruhi pertumbuhan tulang
Human Milk Fortier dapat ditambahkan pada ASI
Pemberian Vit. A digunakan 2x dalam setahun yaitu januari dan agustus
Seharusnya pada saat pasien sampai di Apotek dilakukan three prime questions, three prime question dilakukan sebelum melayani pasien
Lebih diperhatikan lagi terkait penjelasan mengenai instruksi pemasangan ring
Harusnya penyampaian indikasi obat disampaikan untuk menstabilkan atau menormalkan karena jika dikatakan menurunkan maka terdapat target penurunan kadar tersebut
Ditanyakan kepada pasien apakah terdapat perubahan obat
Seharusnya jika nyeri dada nya tidak hilang setelah pemberian obat maka dinaikkan dosisnya, apabila masih tidak hilang maka dibawa ke dokter
Perhatikan waktu KIE yang digunakan agar tepat waktu
Sebelum konsul harusnya diberi assessment terlebih dahulu
Seharusnya tunjukan kopi resep di PPT jika pasien menebus obat setengah saja
Seharusnya PMR juga ditampilkan pada slide PPT
Apabila pasien mendapatkan resep maka harus ditekankan terkait assessment
Seharusnya ditanyakan terkait three prime question
Seharusnya ditanyakan kapan pasien mendapatkan resep tersebut
Seharusnya ditanyakan kadar asam urat pasien berapa untuk mengoptimalkan konselingnya
Diperhatikan lagi obat yang akan diberikan karena pasien termasuk kategori akut
Assessment nya lebih dilengkapi lagi
Leaflet pada poin terapi farmakologi harusnya dilengkapi terkait indikasi, dosis, cara penggunaan dan efek samping
Pada saat presentasi tampilkan leafletnya agar bisa dilihat oleh mahasiswa
Sebaiknya diperjelas makan-makanan yang dapat meningkatkan kadar asam urat untuk mengoptimalkan pengobatan pasien
Pasien mengalami keluhan nyeri, kram dan kaku pada kedua kaki. Rasa kram sudah jauh berkurang dibandingkan sebulan lalu, namun kadang-kadang masih mengganggu dalam beraktivitas. Dalam satu minggu terakhir, kram dan kaku tidak berkurang dan muncul terutama pada pagi hari setelah bangun tidur. Nyeri muncul pada sendi pergelangan kaki, lutut, siku, serta pergelangan tangan. Pasien tersebut mendapatkan resep Kolkisin 0,5 mg diminum 2 kali sehari. untuk mengobati asam urat. Allopurinol 100 mg diminum 1 kali sehari untuk menurunkan kadar asam urat. Cataflam 50 mg diminum 2 kali sehari untuk meredakan rasa nyeri. Neurodex diminum 1 kali sehari untuk mengatasi kram otot. Kolkisin dan Cataflam bisa diminum pagi dan malam. Allopurinol diminum diwaktu yang sama apabila diminum malam hari maka selanjutnya juga minum malam. Neurodex satu kali bisa diminum siang. Cara minumnya bisa ditelan utuh dengan bantuan air yang cukup, jangan dipecah atau dihancurkan. Efek samping yang mungkin terjadi seperti nyeri perut, pusing, mual. Makan-makanan yang harus dihindari seperti jeroan, soda, minuman manis, daging merah, udang, dan kerang. Bisa banyak konsumsi air putih, sayur dan produk susu yang rendah lemak dan olahraga ringan.
Seharusnya Allopurinol tidak diberikan terlebih dahulu karena pasien mengalami nyeri dan dapat menginduksi serangan asam urat sehingga disarankan kolkisin dan cataflam. Cataflam diberikan sampai nyeri berkurang. Apabila sudah tidak nyeri maka diberi Allopurinol. Makan-makanan yang dapat meningkatkan kadar asam urat adalah makanan yang mengandung tinggi purin. Olahraga yang dilakukan 2-3 kali seminggu 30-60 menit. Apabila dalam keadaan nyeri bisa melakukan olahraga ringan seperti yoga atau peregangan.
Dijelaskan pada PPT terkait kapan pasien harus ke dokter
Ketika memberikan penyuluhan perhatikan intonasi dalam penyampaian materi
Leaflet seharusnya tidak banyak tulisan dan lebih banyak gambarnya, dibuat dengan cara yang menarik
Jelaskan hubungan indikasi obat dan fungsi-fungsinya langsung ke jantung
Gagal jantung kongestif adalah keadaan patofisiologis berupa kelainan fungsi jantung sehingga jantung tidak mampu memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan akan oksigen dan nutrisi dan atau kemampuannya hanya ada jika disertai peninggian volume diastolik secara abnormal. Gejalanya seperti sesak nafas, pembengkakan tungkai dan kelelahan, disertai dengan tanda khas (peningkatan tekanan vena jugularis, ronki paru, peripheral edema), disebabkan oleh kelainan struktural dan atau fungsional jantung, menghasilkan berkurangnya curah jantung dan atau peningkatan tekanan intra jantung saat istirahat atau selama stres. Prevalensi penyakit gagal jantung tertinggi ditemukan di Central Europe, Afrika Selatan, dan daerah Timur Tengah, sedangkan Asia Tenggara dan Eastern Europe termasuk ke dalam negara yang memiliki prevalensi gagal jantung yang rendah. Angka prevalensi gagal jantung di Indonesia tergolong tinggi dibandingkan negara di Asia lainnya karena prevalensi penyakit jantung di Indonesia menyentuh angka 5%. Usia terbanyak penderita gagal jantung adalah lanjut usia pada 60-70 tahun (50%). Kemudian disusul kelompok 50-59 tahun (37%), kelompok 40-49 tahun (13%), dan paling sedikit kelompok 30-39 tahun (3%). Faktor risiko gagal jantung adalah karena ada penyakit seperti diabetes melitus, obesitas, hipertensi, penyakit ginjal kronis, dan penyakit penyerta kanker pada awal gagal jantung. Selain itu tekanan darah tinggi tidak terkontrol, kolesterol tinggi dan merokok. Gagal jantung diawali dengan adanya kerusakan pada jantung atau miokardium. Hal ini akan menyebabkan menurunnya curah jantung. Apabila curah jantung tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme, maka jantung akan memberikan respon kompensasi untuk mempertahankan fungsi jantung agar tetap dapat memompa darah secara adekuat. Namun apabila mekanisme tersebut secara maksimal telah digunakan dan curah jantung tidak terpenuhi, maka akan timbul gejala gagal jantung. Gejala khas gagal jantung meliputi sesak nafas saat istirahat atau aktivitas, kelelahan, dan edema tungkai. Tanda khas gagal jantung berupa takikardia, takipnea, ronki paru, efusi pleura, peningkatan tekanan vena jugularis, edema perifer, dan hepatomegali. Pemeriksaannya berupa, foto thorax, EKG 12 lead, ekokardiografi, darah radionuclide, fungsi paru dan biomarker. Klasifikasi gagal jantung berdasarkan kelainan struktural jantung dibagi menjadi 4 yaitu stadium A, B, C dan D. Stadium A adalah pasien memiliki risiko tinggi berkembang menjadi gagal jantung, tidak ada gangguan struktural atau fungsional dari jantung dan tidak ada tanda atau gejala. Stadium B yaitu sudah ada kelainan pada struktur jantung yang berhubungan dengan perkembangan gagal jantung tetapi tidak ada tanda atau gejala. Stadium C yaitu gagal jantung simtomatik yang berhubungan dengan penyakit struktural jantung yang mendasari. Stadium D yaitu penyakit jantung struktural lanjut disertai gejala bermakna yang muncul saat istirahat walaupun sudah diterapi farmakologi maksimal (refrakter atau berulang). Klasifikasi gagal jantung berdasarkan kapasitas fungsional, gagal jantung dibagi menjadi 4 kelas. Kelas I yaitu tidak ada batasan aktivitas fisik. Aktivitas fisik sehari-hari tidak menimbulkan kelelahan, berdebar atau sesak nafas. Kelas II yaitu terdapat batasan aktivitas ringan. Aktivitas sehari-hari menimbulkan kelelahan, berdebar atau sesak nafas tetapi tiada keluhan saat istirahat. Kelas III yaitu terdapat batas aktivitas yang bermakna. Aktivitas fisik ringan menyebabkan kelelahan, berdebar atau sesak nafas tetapi tiada keluhan saat istirahat. Kelas IV yaitu tidak dapat melakukan aktivitas fisik tanpa keluhan. Saat istirahat ada gejala dan meningkat saat beraktivitas.
Obat-obatan gagal jantung adalah Angiotensin Receptor Blocker (ARB) contohnya seperti candesartan dan valsartan, beta blocker contohnya adalah bisoprolol dan carvedilol, Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitors (ACE-I) contohnya seperti captopril dan lisinopril, antagonis aldosteron contohnya adalah eplerenon dan spironolakton, Ivabradine dan Sacubitril / Valsartan. Pengobatan lain ada obat diuretik, digoksin, vasodilator dan mineralorespetor antagonis (MRA). Terapi non farmakologi seperti mengontrol berat badan, hindari merokok dan konsumsi alkohol, hindari stress, melakukan aktivitas fisik rutin, mengatur pola makan dan membatasi konsumsi natrium.
Pada laki-laki kejadian gagal jantung pada wanita karena adanya ketidakseimbangan hormon. Pada laki laki memiliki faktor stress yang lebih tinggi karena beban pekerjaan.
4A_Obesitas
Saran:
Penyuluhan yang dilakukan sudah sangat baik, masing-masing peran dari mahasiswa sudah mampu memerankan dengan baik. Namun untuk kostum dari siswa SMA belum tergambar dari video tersebut, sehingga rancu antara mahasiswa yang melakukan penyuluhan dan murid SMA.
Bisa ditambahkan pendahuluan mengapa melakukan penyuluhan obesitas beserta epidemiologinya.
Terapi farmakologi sudah dijelaskan mana obat yang didapatkan dgn resep/tidak, tetapi harus diperjelas juga dosis serta cara penggunaannya.
Bahasa yang digunakan seperti obat golongan agonis adrenergik masih kurang awam sehingga susah dimengerti oleh siswa SMA.
Terapi non-farmakologi seharusnya bisa lebih diperdalam lagi maksud dari mengatur pola makan menggunakan piring makan model T itu bagaimana, misalkan ½ dari piring makan terdiri dari buah dan sayur, dst.
Terapi non-farmakologi yang paling penting dan belum disebutkan adalah diet gizi seimbang, bagaimana yg dimaksud dengan gizi seimbang, seperti persentase kalori dsb.
Untuk interpretasi IMT (Indeks Masa Tubuh) seharusnya tidak hanya dijelaskan interpretasi nilai obesitas saja, tetapi dijelaskan pula berapa nilai normal IMT yang seharusnya dicapai jika sudah mengalami obesitas.
John paul tidak mengikuti video penyuluhan?
Penulisan di makalah sudah cukup lengkap, namun pada PPT dan penyuluhannya tidak dijelaskan secara detail.
4B_Obesitas
Saran:
Penyuluhan yang dilakukan sudah sangat baik, masing-masing mahasiswa sudah sangat baik dalam memerankan tokoh dalam video.
Penyuluhan yang dilakukan sangat interaktif, namun disayangkan ketika penyuluhan dilakukan menggunakan zoom.
Video penyuluhan ada beberapa bagian yang belum di cut dan ada yang terpotong.
Terapi farmakologi sebaiknya dapat ditambahkan penjelasan pada obat mana yang harus didapatkan dgn resep/tidak
Isi dari penyuluhan sudah lengkap dan bagus, namun bahasa yang digunakan masih banyak menggunakan bahasa medis sehingga susah dipahami oleh siswa SMA.
Cara perhitungan untuk deteksi obesitas sebaiknya digunakan metode yang paling umum saja, seperti IMT (Indeks Masa Tubuh).
Terapi non-farmakologi sudah dijelaskan dengan lengkap, namun di PPT masih terlalu banyak tulisan sehingga perlu disederhanakan agar lebih menarik.
Penulisan di leaflet terkait terapi farmakologi obesitas sebaiknya dilengkapi dengan adanya indikasi, dosis dan efek samping
Roleplay sudah sangat baik. Pasien, keluarga/teman pasien, TTK dan Apoteker sudah cukup mampu memerankan dengan baik.
Penggalian data pribadi dan asesmen juga telah dilakukan dengan baik
Penjelasan apoteker mengenai keluhan pasien sudah baik, sudah dijelaskan dengan baik anemia pada remaja dan hubungannya dengan menstruasi
Tindakan apoteker untuk tidak memberikan Blackmores sudah tepat, karena memang tidak sesuai dengan keluhan yang dialami oleh pasien
Solusi yang ditawarkan apoteker untuk memberikan sangobion sudah tepat, namun penjelasan kurang tepat. Pada sangobion sudah terdapat vitamin C juga, jadi sudah cukup dengan sangobion tanpa tambahan blackmores lagi.
Apoteker tidak menjelaskan terapi non farmakologi yang spesifik pada pasien yang masih remaja dan terkena anemia, padahal asupan gizi yang berimbang sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi remaja.
Apoteker seharusnya memberikan informasi bahwa saat ini puskesmas memiliki program untuk mewujudkan remaja putri bebas dari anemia, pada program tersebut, pada remaja akan diberikan Tablet tambah darah.
Pada makalah, sebaiknya dijelaskan dengan lebih rinci gejala anemia apa saja.
Terapi farmakologi pada makalah, apakah hanya pemberian zat besi saja? Sebaiknya dilengkapi, pada terapi non farmakologi juga disebutkan suplementasi zat besi, apakah itu terapi non farmakologi?
Tidak ada SOAP yang jelas pada analisa kasus. Sehingga tidak terdapat alasan yang jelas, mengapa memberikan sangobion diantara suplemen TTD yang lain.
Tidak ada penjelasan program pemerintah mengenai anemia pada remaja pada makalah
Roleplay sudah cukup baik. Pasien, keluarga/teman pasien, TTK dan Apoteker sudah cukup mampu memerankan dengan baik.
Asesmen yang dilakukan oleh apoteker juga telah dilakukan dengan baik.
Penjelasan apoteker mengenai anemia pada remaja, khususnya pada pasien ini masih kurang, seharusnya dijelaskan lebih detail mengapa pasien bisa merasakan gejala anemia
Tindakan apoteker untuk tidak memberikan Blackmores sudah tepat, karena memang tidak sesuai dengan keluhan yang dialami oleh pasien
Solusi yang ditawarkan apoteker untuk memberikan sangobion sudah tepat, namun penjelasan kurang tepat. Pada sangobion sudah terdapat vitamin C juga, jadi sudah cukup dengan sangobion tanpa tambahan blackmores lagi. Belum dijelaskan juga sepertinya (suara apoteker kecil) untuk sampai kapan pasien harus menggunakan obat tersebut
Apoteker belum menjelaskan efek samping potensial yang mungkin mengganggu pasien dan berpengaruh terhadap kepatuhan terapi, yaitu warna tinja menjadi gelap.
Terapi non farmakologi yang dijelaskan kurang spesifik untuk pasien yang masih remaja dan terkena anemia. Masih sangat general. Padahal asupan gizi yang berimbang sangat diperlukan untuk memperbaiki kondisi remaja.
Apoteker seharusnya memberikan informasi bahwa saat ini puskesmas memiliki program untuk mewujudkan remaja putri bebas dari anemia, pada program tersebut, pada remaja akan diberikan Tablet tambah darah.
Makalah telah disusun dengan baik, namun tidak terdapat alasan yang jelas mengapa memberikan sangobion diantara suplemen TTD yang lain.
Tidak ada penjelasan program pemerintah mengenai anemia pada remaja pada makalah
5B_Low Back Pain
Rangkuman :
Seorang pasien bernama Fania datang ke apotek dengan keluhan nyeri dibagian punggung bawah. Nyeri yang pasien rasakan seperti ditusuk, dan jika terlalu lama duduk nyeri bisa terasa sampai kaki. Keluhan yang pasien alami muncul sejak kemarin setelah membantu suaminya memindahkan barang barang ke rumah baru. Pasien jarang berolahraga, dan bekerja sebagai tenaga administrasi. Pasien belum pernah periksa ke dokter, dan pergi apotek untuk menebus obat Deksametason 0,75 mg untuk mengatasi pegal dan nyeri di punggung bagian bawah pasien. Nyeri yang dialami pasien sempat reda tetapi pada malam harinya kambuh lagi. Pasien berusia 35 tahun dengan tinggi badan 160 an dan berat badan 70 kg. Upaya untuk mengatasi gejala yang pernah pasien gunakan hanya koyo.
Apoteker menyarakan pasien untuk menggunakan ibuprofen 200 mg, diminum 3 kali sehari setelah makan. Ibuprofen hanya digunakan ketika nyeri yang dirasakan pasien kambuh. Obat deksametason tidak diberikan dan belum disarankan oleh apoteker untuk digunakan pada kondisi pasien. Efek samping yang mungkin terjadi akibat penggunaan ibuprofen adalah pusing, sakit kepala, dan gangguan gastrointestinal seperti diare, mual, dan muntah. Apoteker menyarankan agar pasien melakukan beberapa aktivitas fisik seperti yoga, olahraga ringan, duduk tegak saat bekerja, tidak melakukan aktivitas fisik yang terlalu berat. Pasien diberikan 1 strip obat, jika setelah mengonsumsi 1 strip gejala yang dialami pasien tidak kunjung membaik, pasien disarankan untuk berkonsultasi ke dokter.
Kategori pasien adalah low back pain akut, karena berlangsung < 2 minggu. Selain ibuprofen, dalam digunakan golongan NSAIDs lainnya seperti asam mefenamat, na diklofenak, dll. Selain golongan NSAIDs, terapi yang dapat diberikan adalah golongan muscle relaxant, seperti baclofen, chlorzoxazone, dll. Pasien mengalami low back pain karena faktor non spesifik, yaitu aktivitas fisik berlebihan, obesitas, jarang berolahraga, dan terlalu lama duduk. Yang dapat disarankan pada pasien berkaitan dengan gejala adalah dengan duduk tegak saat bekerja, peregangan otot, dan menurunkan berat badan.
Assessment:
Pasien diberitahu temannya untuk minum obat Deksametason 0,75 mg. Deksametason merupakan golongan obat kortikosteroid yang memiliki efek antiinflamasi. Namun penggunaan deksametason kurang tepat dikarenakan deksametason merupakan obat keras yang membutuhkan resep dokter untuk penggunaannya. Selain itu, penggunaan deksametason juga tidak sesuai untuk mengatasi gejala pasien dikarenakan golongan obat kortikosteroid biasanya digunakan untuk nyeri yang kronis atau parah sedangkan pasien Fania mengalami nyeri akut. Terlebih deksametason tergolong dalam kortikosteroid yang lebih berisiko untuk digunakan pada nyeri akut karena kemampuannya yang menekan respon peradangan dan respon imun tubuh, sehingga tidak dapat dihentikan begitu saja jika nyeri telah reda karena dapat menyebabkan insufisiensi adrenal (Yulianto & Sari, 2014). Insufisiensi adrenal ini terjadi karena kortikosteroid dapat mensupresi kadar kortisol serum dalam tubuh (Broersen et al., 2015). Maka dari itu, pada kasus ini pasien diberikan terapi lain yang merupakan terapi lini pertama dalam mengatasi nyeri pasien. Pasien diberikan terapi obat dari golongan OAINS/NSAID. OAINS merupakan terapi yang paling sering digunakan pada low back pain. Terapi ini direkomendasikan untuk mengurangi nyeri pada penderita low back pain. OAINS bekerja dengan menghambat produksi prostaglandin, dimana prostaglandin berperan penting dalam proses inflamasi dan nosiseptif (Rizki & Saftarina, 2020). Pasien diberikan tablet ibuprofen 200 mg sebanyak 1 strip dengan cara pemakaian diminum 3 kali sehari yaitu pagi, siang, dan malam setelah makan. Penggunaan obat dapat dihentikan hingga nyeri hilang.
PMR:
5B_Osteopororis
Rangkuman :
Osteoporosis atau disebut dengan tulang keporos adalah penyakit yang mempunyai sifat khas berupa penurunan massa tulang disertai penurunan massa tulang disertai penurunan kualitas jaringan tulang yang dapat menimbulkan kerapuhan tulang. Osteoporosis dibagi menjadi dua yaitu primer (terjadi pada wanita pasca menopause dan pada wanita usia lanjut), dan sekunder (terjadi karena penyakit tertentu seperti diabetes mellitus dan rheumatoid arthritis, dan juga karena kesalahan gaya hidup. Osteoporosis diderita oleh Sekitar 200 Juta orang di dunia dan meningkat seiring bertambahnya usia. Wanita lebih sering mengalami osteoporosis dibandingkan dengan pria. Faktor risiko osteoporosis terbagi menjadi dua yaitu faktor yang tidak dapat dimodifikasi dan faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Faktor yang tidak dapat dimodifikasi yaitu usia lanjut (Semakin bertambah usia maka akan terjadi peningkatan bone loss (kehilangan tulang), terutama pada lansia), jenis kelamin (Wanita memiliki kepadatan tulang yang lebih rendah daripada lakilaki karena puncak massa tulang wanita lebih rendah dan adanya perubahan hormon yang terjadi pada masa menopause), dan riwayat keluarga (Riwayat keluarga osteoporosis memiliki pengaruh terhadap kejadian osteoporosis sebanyak 37 kali lipat dibandingkan yang tidak memiliki riwayat keluarga osteoporosis). Sedangkan, faktor risiko yang dapat dimodifikasi yaitu pengurangan massa tubuh, aktivitas fisik yang kurang, kurang asuoan kalsium, merokok, kurang paparan sinar matahari, konsumsi alkohol dan kafein, serta karena penggunaan obat obatan tertentu. Gejala osteoporosis adalah nyeri tulang, tinggi badan berkurang, nyeri punggung, punggung membungkuk, dan patah tulang. Pemeriksaan yang dapat dilakukan yaitu pemeriksaan laboratorium, Dual-Energy x-ray absorptiometry (DEXA), dan computed tomography. Pengobatan lini pertama adalah alendronat, risedronat, asam zoledronat, dan denosumab. Untuk lini kedua yaitu ibandronate, raloxifene, dan teriparatide. Untuk lini terakhis adalah calcitonin intranasal. Terapi komplementer yang dapat dilakukan yaitu dengan mengonsumsi kalsium, dan vitamin D. Pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah osteoporosis yaitu dengan minum 2 gelas susu dan tambahan vitamin D setiap hari dapat meningkatkan kepadatan tulang. Dapat dilakukan aktivitas fisik misalnya berjalan dan menaiki tangga, menghindari rokok dan alkohol, rutin berjemur, dan menghindari lingkungan licin dan gelap untuk menghindari faktor faktor jatuh. Beberapa obat obatan yang digunakan dalam terapi osteoporosis dapat dibeli dengan harga terjangkau melalui program JKN-KIS, seperti alendronat, asam zoledronate, dan risedronat.
Apabila pasien memiliki faktor risiko atau gejala yang mengindikasikan osteoporosis, seperti nyeri punggung atau nyeri leher yang tidak kunjung sembuh, tulang patah tanoa penyebab yang jelas, dan postur tubuh yang bungkuk, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter. Wanita yang telah memasuki masa menopause juga disarakan melakukan pemeriksaan kondisi tulang secara rutin. Contoh terapi non farmakologi dapat dilakukan dengan berjemur , sejak terbit sampai jam 9 pagi atau mulai dari jam 3 sampai matahari terbenam, dapat berjemur 3x sehari, dan dapat dilakukan selama 30 menit tiap kali berjemur.
1A_Picky Eater
Saran:
1B_Picky Eater
Saran:
PMR:
anjay
BalasHapus